Seni Budaya SMA - Materi, Konsep & Latihan Soal
Mata pelajaran Seni Budaya SMA mencakup Fase E (kelas 10) dan Fase F (kelas 11-12) sebagai mapel gabungan 4 cabang seni: Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari, dan Seni Teater. Diorganisasikan dalam 4 elemen utama (mengamati-mengalami, refleksi, berpikir-bekerja artistik, berdampak). Pendekatan: deep learning melalui apresiasi warisan seni Nusantara, eksplorasi seni modern Indonesia, dan kreasi karya. Total 12 topik dengan track kelompok seragam (3 kelompok @ 10 soal = 30 soal per topik).
12 topik · 360 soal latihan + pembahasan · Kurikulum Merdeka
Daftar gratis - latihan Seni Budaya + Kak Guru AI
Kelas 10 (Fase E)
Pada akhir Fase E, peserta didik memahami unsur-unsur dasar 4 cabang seni (rupa, musik, tari, teater) dan mampu mengapresiasi ragam seni tradisional Nusantara sebagai kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Pengantar Seni Budaya dan Apresiasi Seni
Konsep seni: definisi (Plato, Aristoteles, Ki Hadjar Dewantara), fungsi (individual, sosial, religius, ekonomi, pendidikan), klasifikasi 4 cabang seni. Apresiasi seni: empatik, estetis, kritis. Tokoh seniman besar Indonesia (Affandi, Raden Saleh, Ismail Marzuki, Bagong Kussudiardjo, WS Rendra).
Seni Rupa dan Seni Musik Nusantara
Seni rupa Nusantara: unsur (titik, garis, bidang, bentuk, warna, tekstur, ruang), prinsip (kesatuan, keseimbangan, irama, proporsi), ragam karya (lukisan, batik, ukir, anyam, keramik). Seni musik Nusantara: alat musik (gamelan, angklung, sasando, kolintang), tangga nada pelog-slendro, ragam lagu daerah.
Seni Tari dan Seni Teater Nusantara
Seni tari Nusantara: unsur (wiraga, wirama, wirasa), klasifikasi (rakyat, klasik, kreasi baru), tari daerah (Saman, Pendet, Jaipong, Reog, Kecak, Tor-tor). Seni teater Nusantara: tradisional (wayang kulit-orang, ketoprak, lenong, ludruk, randai, makyong), unsur teater (lakon, pemain, sutradara, panggung).
Kelas 11 (Fase F)
Pada akhir kelas 11 Fase F, peserta didik memahami perkembangan seni modern Indonesia di empat cabang (rupa, musik, tari, teater), pengaruh global, serta mampu mengapresiasi karya seniman besar Indonesia abad 20.
Seni Rupa Modern Indonesia
Sejarah seni rupa Indonesia modern: era Mooi Indie (Raden Saleh, Basuki Abdullah), Persagi (S. Sudjojono, Affandi, Hendra Gunawan), pasca kemerdekaan (Sanggar Pelukis Rakyat, Sanggar Bumi Tarung, Gerakan Seni Rupa Baru 1975). Aliran: realisme, ekspresionisme, abstrak. Ragam media modern: lukis, patung, instalasi, fotografi, seni grafis.
Seni Musik Modern Indonesia
Sejarah musik modern Indonesia: era keroncong (Gesang, Bengawan Solo), musik perjuangan (Ismail Marzuki, WR Supratman), pop dan dangdut (Rhoma Irama, Koes Plus, Iwan Fals), jazz Indonesia (Indra Lesmana, Dwiki Dharmawan), musik kontemporer. Notasi balok, tangga nada diatonis (mayor-minor), akor dasar.
Seni Tari Modern dan Kontemporer Indonesia
Tari modern Indonesia: tokoh (Bagong Kussudiardjo, Sardono W. Kusumo, Didik Nini Thowok), karya kreasi baru. Tari kontemporer: eksperimen lintas budaya, fusion dengan dance kontemporer global. Pendekatan koreografi: pengembangan dari tari tradisi, eksplorasi gerak, ruang, waktu, tenaga.
Seni Teater Modern Indonesia
Sejarah teater modern Indonesia: era pra-kemerdekaan (Komedi Stamboel), tokoh besar (WS Rendra, Putu Wijaya, Arifin C. Noer, Nano Riantiarno, N. Riantiarno). Kelompok teater: Bengkel Teater Rendra, Teater Mandiri, Teater Koma. Naskah-naskah penting (Bila Malam Bertambah Malam, Opera Kecoa, Mahabarata). Unsur produksi pertunjukan.
Apresiasi Seni dan Pengaruh Global
Pengaruh seni global ke Indonesia: K-Pop, J-Pop, Hollywood, anime, manga, street art, K-drama. Respons seni Indonesia: kolaborasi global (Joey Alexander, Rich Brian, Niki, Agnez Mo), ekspor batik, wayang, gamelan. Globalisasi vs identitas: festival seni internasional Indonesia (Jakarta International Film Festival, Bali Spirit Festival, ARTJOG).
Kelas 12 (Fase F)
Pada akhir kelas 12 Fase F, peserta didik memahami seni kontemporer Indonesia, ekonomi kreatif, kreasi karya seni terapan, dan pelestarian warisan budaya sebagai kontribusi diri pada peradaban bangsa.
Seni Rupa Kontemporer Indonesia
Seni rupa kontemporer Indonesia 1990an-sekarang: tokoh (Heri Dono, FX Harsono, Nyoman Masriadi, Eko Nugroho, Eddie Hara), media (instalasi, video art, performance, mural, street art). Pasar seni: lelang Sotheby's-Christie's, Art Basel Hong Kong. Galeri besar Indonesia (Galeri Nasional, Museum MACAN, ROH Projects).
Musik, Tari, dan Teater Kontemporer Indonesia
Musik kontemporer Indonesia: indie scene, EDM, hip-hop (Rich Brian, Ramengvrl), kolaborasi gamelan-modern (Slank-Gamelan, Krakatau). Tari kontemporer: Eko Supriyanto, Fitri Setyaningsih. Teater eksperimental: Garasi Performance Institute, Teater Garasi Yogya. Festival musik (Synchronize, Joyland, We The Fest).
Ekonomi Kreatif dan Industri Seni
Ekonomi kreatif Indonesia: 17 subsektor Kemenparekraf (kuliner, fashion, kriya, film, musik, seni rupa, seni pertunjukan, fotografi, animasi-video, DKV, desain produk, arsitektur, periklanan, aplikasi-game developer, TV-radio, penerbitan, desain interior). Karier: kurator, art director, ilustrator, music producer, koreografer, sutradara. UMKM kreatif. Hak kekayaan intelektual (HKI).
Pelestarian Warisan Budaya Indonesia
Warisan budaya tak benda Indonesia (UNESCO ICH): wayang (2003), keris (2005), batik (2009), angklung (2010), tari Saman (2011), noken Papua (2012), 3 genre tari Bali (2015), pinisi (2017), pencak silat (2019), pantun (2020), gamelan (2021), jamu (2023). Strategi pelestarian: edukasi, dokumentasi, regenerasi pelaku, festival, peran komunitas dan pemerintah.