SEKOLAHSMA

Mengungkapkan Kekaguman dalam Narasi Kearifan Lokal

Bahasa Indonesia SMA · Kelas 12 · Fase F

Teks narasi dan artikel jurnalistik tentang kearifan lokal Nusantara. Definisi kearifan lokal: nilai-nilai luhur warisan leluhur yang masih hidup. Kearifan lokal Indonesia: subak (Bali), pranata mangsa (Jawa), nyabuk gunung (Tengger), sasi (Maluku), tana ulen (Dayak), parmalim (Toba), mappalili (Bugis). Filosofi: gotong royong, tepo seliro, silih asah-asih-asuh, tri hita karana. Struktur teks artikel: pendahuluan, isi (deskriptif-analitis), simpulan. Narasi yang menggugah: deskripsi indrawi, sudut pandang etnografi, kutipan informan. Riset lapangan sederhana sebagai dasar artikel.

Konsep kunci yang dipelajari

  • definisi kearifan lokal: nilai luhur warisan leluhur
  • kearifan lokal Nusantara: subak, pranata mangsa, sasi
  • filosofi: gotong royong, tepo seliro, tri hita karana
  • struktur artikel: pendahuluan, isi, simpulan
  • narasi etnografi: deskripsi indrawi, kutipan informan
  • riset lapangan: observasi, wawancara, dokumentasi
  • tantangan kearifan lokal di era globalisasi-digitalisasi

Contoh soal Mengungkapkan Kekaguman dalam Narasi Kearifan Lokal dan pembahasannya

5 soal pilihan ganda berikut diambil dari bank soal SekolahSMA, lengkap dengan pembahasan langkah demi langkah. Coba kerjakan dulu sebelum membaca pembahasannya.

SOAL 1

Menurut regulasi pemajuan kebudayaan, definisi KEARIFAN LOKAL yang paling tepat adalah...

  1. A. Nilai-nilai luhur warisan leluhur yang masih hidup di masyarakat dan menjadi pandangan hidup adaptif untuk menjawab masalah sehari-hari secara berkelanjutan ✓ Jawaban benar
  2. B. Tradisi kuno yang sudah tidak relevan di era globalisasi tetapi tetap dipertahankan untuk kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif
  3. C. Aturan adat tertulis yang ditetapkan kepala desa untuk mengatur kehidupan sehari-hari warga dengan sanksi denda bagi pelanggar
  4. D. Mitos dan cerita rakyat yang diceritakan turun-temurun tanpa dasar fakta untuk menakuti anak-anak agar patuh kepada orang tua
  5. E. Festival budaya tahunan yang diselenggarakan pemerintah daerah untuk menarik wisatawan asing dan meningkatkan pendapatan daerah
Pembahasan

Konsep: JEMBATAN INGAT 3-A: kearifan lokal = nilai luhur yang AKAR (place based), ALIR (intergenerational), ADAPTIF (zaman). Jawaban benar: A -- regulasi pemajuan kebudayaan ketentuan terkait angka 4 mendefinisikan kearifan lokal sebagai NILAI-NILAI LUHUR WARISAN LELUHUR YANG MASIH HIDUP di masyarakat. Definisi ini selaras dengan Geertz (1973) dan Sartini (2004) yang menekankan kearifan lokal sebagai PANDANGAN HIDUP DAN STRATEGI YANG ADAPTIF. Tips: JEMBATAN INGAT 3-A: kearifan lokal = nilai luhur yang AKAR (place based), ALIR (intergenerational), ADAPTIF (zaman). Bukan tradisi statis, bukan mitos, bukan festival. regulasi pemajuan kebudayaan ketentuan terkait angka 4 adalah jawaban kanon untuk soal definisi.

SOAL 2

SUBAK Bali ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada tahun 2012 karena keunikan sistem irigasi terasering yang berbasis filosofi tertentu. Filosofi yang menjadi landasan subak adalah...

  1. A. Tepo Seliro yang berarti tenggang rasa antar petani agar tidak ada yang merebut air dari saudara sebelah dengan kekerasan
  2. B. TRI HITA KARANA yang berarti tiga penyebab kebahagiaan: harmoni manusia dengan Tuhan (parahyangan), sesama manusia (pawongan), dan alam (palemahan) ✓ Jawaban benar
  3. C. Silih Asah-Asih-Asuh yang merupakan filosofi Sunda tentang saling mengajari dan mengasuh dalam komunitas pertanian sawah terasering
  4. D. Gotong Royong yang sebenarnya istilah Jawa tetapi diadopsi luas sebagai filosofi kerja bersama tanpa upah di Bali pada masa kolonial
  5. E. Tana Ulen yang merupakan konsep hutan adat lindung untuk konservasi air sehingga subak dapat mengalir sepanjang tahun ke sawah-sawah
Pembahasan

Konsep: INGAT TIGA-P: TRI HITA KARANA = Parahyangan (Tuhan) + Pawongan (manusia) + Palemahan (alam). Jawaban benar: B -- Subak Bali berlandaskan filosofi TRI HITA KARANA = tiga penyebab kebahagiaan: (1) PARAHYANGAN (harmoni manusia-Tuhan), (2) PAWONGAN (harmoni manusia-manusia), (3) PALEMAHAN (harmoni manusia-alam). Filosofi ini dirumuskan Pesamuhan Agung 1966 dan diintegrasikan ke Perda Bali 4/2019 tentang Desa Adat. Tips: INGAT TIGA-P: TRI HITA KARANA = Parahyangan (Tuhan) + Pawongan (manusia) + Palemahan (alam). Ini fondasi subak Bali yang membuat UNESCO 2012 menetapkannya sebagai Warisan Budaya Dunia. Setiap pertanyaan tentang filosofi subak = jawaban Tri Hita Karana, bukan filosofi daerah lain.

SOAL 3

Sasi Maluku adalah kearifan lokal pengelolaan sumber daya alam dengan sistem larangan panen periodik. Yang BUKAN merupakan ciri khas sasi Maluku adalah...

  1. A. Larangan panen pada periode tertentu (sasi laut, sasi darat) untuk memberi waktu regenerasi sumber daya alam dan menjaga keberlanjutan stok
  2. B. Pengumuman pembukaan dan penutupan sasi oleh kewang (penjaga adat) di hadapan warga, biasanya dengan ritual khusus di masjid atau gereja desa
  3. C. Pemberian hak monopoli eksploitasi kepada satu keluarga keturunan raja adat untuk panen seluruh hasil sasi yang sudah dibuka tanpa pembagian dengan warga ✓ Jawaban benar
  4. D. Sanksi adat berupa denda atau ritual pembersihan bagi pelanggar yang panen sebelum waktu sasi dibuka resmi oleh kewang
  5. E. Pengakuan dalam regulasi perlindungan lingkungan hidup PPLH sebagai praktik pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat (community based natural resource management)
Pembahasan

Konsep: WASPADA: pertanyaan BUKAN ciri khas memerlukan eliminasi yang TERBALIK. Jawaban benar: C -- Sasi Maluku TIDAK memberikan hak monopoli eksploitasi kepada satu keluarga raja. Justru sebaliknya, sasi adalah sistem KOMUNAL = ketika sasi dibuka, seluruh warga desa dapat memanen dengan ATURAN BERSAMA dan hasil dibagi sesuai kesepakatan adat. Tips: WASPADA: pertanyaan BUKAN ciri khas memerlukan eliminasi yang TERBALIK. Sasi Maluku itu KOMUNAL EGALITER bukan FEODAL MONOPOLI. Kewang itu pengelola, bukan pemilik. Setiap opsi yang menyebut hak eksklusif satu keluarga = SALAH untuk kearifan lokal komunal Indonesia.

SOAL 4

Pak Dwi guru bahasa Indonesia SMA Negeri 8 Yogyakarta meminta siswa menulis artikel tentang PRANATA MANGSA Jawa. Salah satu siswa bernama Reyhan menulis kalimat pembuka: Pranata mangsa adalah kalender pertanian Jawa kuno yang sudah tidak digunakan petani modern. Mengapa kalimat pembuka Reyhan SECARA FAKTUAL TIDAK TEPAT?

  1. A. Karena Reyhan tidak menyebut tahun penulisan kalender pranata mangsa oleh Sri Susuhunan Pakubuwono VII di awal kalimat sebagai konteks historis
  2. B. Karena Reyhan tidak menggunakan deskripsi indrawi yang diharapkan dalam narasi etnografi sehingga kalimat pembuka terasa kering tanpa daya pikat
  3. C. Karena Reyhan tidak mengutip informan kunci atau sesepuh petani sebagai pembuka yang akan memberi otoritas pada artikelnya secara langsung
  4. D. Karena Reyhan ROMANTISASI-NEGATIF = menyatakan tidak digunakan padahal pranata mangsa masih dipakai banyak petani Jawa kontemporer dengan adaptasi modern ✓ Jawaban benar
  5. E. Karena Reyhan tidak menyebut kebijakan pemerintah tentang pelestarian kalender tradisional dalam pembukaan artikel sehingga kehilangan dimensi advokasi
Pembahasan

Konsep: WASPADA DUA STEREOTIP NARASI ETNOGRAFI: (1) ROMANTISASI POSITIF = budaya seperti surga tanpa cela; (2) ROMANTISASI NEGATIF = budaya sudah punah-mati. Jawaban benar: D -- Kesalahan Reyhan adalah ROMANTISASI-NEGATIF yang menggambarkan kearifan lokal seolah sudah punah, padahal pranata mangsa MASIH DIPAKAI banyak petani Jawa kontemporer. Bahkan Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Kementerian Pertanian telah mengintegrasikan pranata mangsa ke pemodelan iklim modern (riset Nofyangtri 2014). Tips: WASPADA DUA STEREOTIP NARASI ETNOGRAFI: (1) ROMANTISASI POSITIF = budaya seperti surga tanpa cela; (2) ROMANTISASI NEGATIF = budaya sudah punah-mati. Keduanya salah. Cek fakta, tampilkan kompleksitas, hormati dinamika. Etika regulasi pemajuan kebudayaan ketentuan terkait: libatkan masyarakat adat dalam tulisan.

SOAL 5

TRI HITA KARANA mencakup tiga dimensi yang harus seimbang: parahyangan, pawongan, dan palemahan. Manakah pasangan dimensi-perwujudan PRAKTIS yang TIDAK TEPAT?

  1. A. Parahyangan diwujudkan dalam pembangunan sanggah keluarga, kahyangan tiga desa, dan pelaksanaan ritus kalender Saka oleh seluruh warga
  2. B. Pawongan diwujudkan dalam struktur banjar sebagai unit komunal, sekaa sebagai kelompok minat, dan awig-awig sebagai hukum lokal tertulis desa adat
  3. C. Palemahan diwujudkan dalam tata ruang desa adat luan-teben (hulu-hilir), sistem subak terasering, dan larangan eksploitasi mata air keramat (beji)
  4. D. Pawongan diwujudkan dalam awig-awig desa adat yang ditetapkan oleh prajuru (pengurus adat) dan ditegakkan oleh seluruh krama (warga adat)
  5. E. PALEMAHAN diwujudkan dalam pembangunan villa wisata privat di kawasan beji yang dialihfungsikan agar memberi pemasukan ekonomi langsung kepada desa adat ✓ Jawaban benar
Pembahasan

Konsep: INGAT MAKNA TIGA P: PARAhyangan = Tuhan (sanggah-pura), PAWongan = manusia (banjar-sekaa-awig), PALEmahan = alam (subak-luan teben-beji). Jawaban benar: E -- Opsi E SALAH (= jawaban yang dicari soal TIDAK TEPAT) karena justru BERTENTANGAN dengan filosofi palemahan. Palemahan bermakna HARMONI MANUSIA DENGAN ALAM, yang dalam praktiknya melarang eksploitasi mata air keramat (beji). Tips: INGAT MAKNA TIGA P: PARAhyangan = Tuhan (sanggah-pura), PAWongan = manusia (banjar-sekaa-awig), PALEmahan = alam (subak-luan teben-beji). Setiap perwujudan yang MELANGGAR makna dimensi (misal: villa di beji = melanggar palemahan) adalah jawaban untuk soal TIDAK TEPAT.

Latihan soal Mengungkapkan Kekaguman dalam Narasi Kearifan Lokal

Tersedia 30 soal latihan Mengungkapkan Kekaguman dalam Narasi Kearifan Lokal dengan pembahasan langkah demi langkah, plus Kak Guru AI yang menjelaskan konsep 24/7. Mulai gratis tanpa kartu kredit.

Daftar gratis & mulai latihan

Topik lain di Bahasa Indonesia